3+ Perbedaan Dropship dan Reseller, Pebisnis Harus Tau!

  • 4 min read
  • Okt 03, 2020
perbedaan dropship dan reseller

Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui perbedaan dropship dan reseller, Anda mungkin salah satu diantaranya.

Karena memang kedua bisnis ini punya cara berjualan yang serupa. Meskipun begitu, dropship dan reseller adalah 2 jenis bisnis yang berbeda.

Belakangan ini, bisnis dropship dan reseller sedang menjadi perbicangan di kalangan masyarakat Indonesia.

Mengingat banyak karyawan yang dirumahkan karena kondisi ekonomi yang belum stabil akibat dampak pandemi, salah satu pilihan alternatif untuk tetap bisa mendapatkan penghasilan adalah dengan menjadi reseller atau dropshiper.

Namun yang pasti Anda harus mengerti dulu definisi dan cara kerja kedua jenis bisnis online ini. Oleh karena itu, kali ini kita akan membahas tentang perbedaan dropship dan reseller serta membandingkan mana yang terbaik.

 

Apa Perbedaan Dropship dan Reseller?

Seperti yang sudah dikatakan tadi, menjadi seorang reseller dan menjadi dropshipper adalah dua jenis bisnis online yang berbeda. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa pahami dulu definisi dropship dan reseller melalui penjelasan di bawah ini.

 

Apa Itu Reseller?

3+ Perbedaan Dropship dan Reseller, Pebisnis Harus Tau! 1
Ilustrasi reseller

Secara bahasa, reseller bisa diartikan sebagai orang yang menjual ulang sesuatu. Baik itu sebuah produk fisik maupun produk digital.

Artinya dalam bisnis online ini, Anda akan menjual ulang produk milik orang lain atau dari brand lain tanpa harus menjalin kerja sama dengan pemilik brand tersebut.

Cara kerja menjadi reseller ini adalah dengan membeli dulu barang atau produk milik orang lain dalam stock tertentu. Kemudian Anda akan menjualnya kembali dengan harga yang bisa Anda tentukan sesuka hati.

Beberapa jenis reseller juga bisa mengecer produk menjadi ukuran yang lebih kecil. Misalnya Anda membeli satu paket buku komik yang berisi 10 buku dalam 1 segel.

Sebagai reseller, Anda bisa membaginya dan menjual secara terpisah dengan harga yang lebih murah agar bisa dibeli oleh lebih banyak orang.

Tetapi meskipun harga tiap buku terlihat lebih murah, Anda bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan menjual satu paket buku tersebut.

 

Apa Itu Dropship?

Bisnis dropship

Hampir mirip dengan reseller, definisi utama dari dropshipper atau dropship juga menjual barang atau produk milik orang lain. Tetapi perbedaannya adalah, Anda perlu menjalin kerja sama langsung dengan sang pemilik produk tersebut.

Artinya sebelum memulai bisnis jualan daring ini, Anda perlu menghubungi pemilik produk dan mengatakan ingin menjadi dropshipper dari brand tersebut dulu.

Karena tidak seperti reseller, seorang dropshipper tidak perlu membeli produk sebagai stock dan menjualnya kembali. Jadi cara kerja dropship online hanyalah mencari pelanggan dan menghubungkannya dengan penjual produk tersebut.

Sedangkan komisi yang Anda dapatkan berasal dari tiap produk yang terjual. Jadi cara kerjanya tidak jauh berbeda pula dengan melakukan promosi atau membuat iklan.

Karena pada umumnya dropshipper menjalin kerja sama langsung dengan pemilik brand, Anda tidak bisa menentukan harga jual produk sesuka hati. Justru kebanyakan brand sudah menentukan harga khusus dropship.

Meskipun begitu, kini menjadi dropshipper online sudah jauh lebih mudah. Sebab dengan adanya toko online seperti Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak yang sudah menyediakan fitur “Kirim Sebagai Dropshipper”, Anda tidak wajib menghubungi pemilik brand langsung.

Jadi cukup buat iklan di toko online, cari pelanggan, dan kirim produk langsung dari pemilik brand ketika ada pelanggan yang beli. Tidak perlu mengumpulkan stock, mengemas barang, atau mengirim produk ke kurir.

 

Baca juga : ciri bisnis dropship terbaik.

 

Mana yang Lebih Baik, Jadi Dropshipper atau Reseller?

Ketika ingin memulai bisnis online ini, pertanyaan seperti “mending reseller atau dropship?” pasti muncul dalam pikiran Anda.

Mengingat kedua jenis bisnis ini sangat mirip satu dengan lainnya, kami akan membantu Anda menentukan mana yang lebih baik melalui perbandingan beberapa faktor utama seperti resiko, kesulitan dan omzet.

Nah, berikut ini adalah faktor – faktor perbandingan antara menjadi dropshipper dan reseller.

 

Faktor Resiko

Karena tidak perlu membeli dan stock produk di rumah, menjadi seorang dropshipper memiliki resiko yang lebih rendah.

Sebab Anda tidak perlu takut rugi ketika produknya gagal dijual. Apalagi jika Anda ingin menjadi dropshipper untuk produk makanan yang bisa basi bila tidak segera laku.

Sedangkan menjadi reseller punya resiko yang lebih tinggi. Seperti yang dikatakan tadi, ada kemungkinan rugi bila produk tidak terjual tepat waktu.

Selain itu, Anda juga akan disalahkan ketika produk yang diterima pelanggan rusak karena tidak dikemas dengan baik bila menjadi reseller. Sedangkan dropshipper tidak perlu mengemas barang yang Anda jual.

 

Baca juga : bisnis anak sekolah.

 

Faktor Tingkat Kesulitan

Menjadi reseller jelas lebih sulit dibandinkan menjadi dropshipper. Karena Anda perlu mencari produk, membeli dan mengumpulkan stock, serta mengemas tiap barang yang ingin dikirim ke pelanggan. Sedangkan dropshipper tidak perlu melakukan hal itu semua.

Tetapi seorang reseller bisa menentukan harga dan pembagian produk sesuai yang diinginkan. Sehingga dengan strategi penjualan yang tepat, reseller bisa menemukan pembeli dengan lebih mudah.

Sedangkan seorang dropshipper tidak bisa menentukan harga ataupun pembagian produk. Bahkan bila ingin bekerja sama secara langsung dengan brand tertentu, terkadang Anda tidak boleh menjual produk lain selain dari brand tersebut.

 

Faktor Modal

Berikutnya ada faktor modal yang menjadi perbedaan dropship dan reseller yang paling besar. Perlu Anda ketahui, modal menjadi reseller lebih besar daripada menjadi dropshipper. Karena semua produk yang ingin Anda jual harus Anda beli terlebih dulu.

Dan demi mendapatkan harga yang lebih murah, Anda perlu membeli produk – produk tersebut dalam jumlah banyak.

Sedangkan menjadi dropshipper bisa dibilang merupakan bisnis tanpa modal sama sekali. Jika butuh modal pun, angkanya tidak lebih dari 1 juta rupiah.

 

Baca juga : bisnis bidang pariwisata.

 

Faktor Omzet dan Keuntungan

Keuntungan dropship dan reseller juga punya perbedaan yang cukup signifikan. Umumnya, seorang reseller yang memiliki strategi penjualan tepat bisa mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan dropshipper.

Hal ini dipengaruhi juga oleh keuntungan menjadi dropshiper yang bisa mengatur harga sesuka hati.

Sedangkan omzet yang didapatkan sebagai seorang dropshipper mungkin tidak terlalu besar. Tetapi omzetnya sepadan dengan mudahnya pekerjaan yang perlu Anda lakukan.

 

Baca juga : peluang bisnis bidang otomotif.

 

Demikianlah penjelasan mengenai perbedaan dropship dan reseller. Jadi mana yang menurut Anda lebih baik, menjadi dropshipper atau menjadi reseller? Yuk, sampaikan di kolom komentar!

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *