Bukan cuma Google Maps, ada ratusan aplikasi navigasi yang bisa Anda pakai di smartphone.
Memang tidak semua menjangkau jalanan di Indonesia sedetail peta buatan Google, Tapi Google Maps juga punya satu kekurangan, yaitu keterbatasan fitur untuk aplikasi dengan ukuran cukup besar.
Ada banyak pengguna Android versi lama yang sudah tidak bisa update aplikasi Google Maps mereka lagi karena ruang penyimpanan sudah penuh.
Sedangkan jika tidak diupdate, pengguna tidak bisa memakai fitur di Maps seutuhnya.
Jadi jalan keluarnya adalah menggunakan aplikasi navigasi selain Google Maps dengan ukuran lebih kecil dan fitur lebih lengkap.
10 Aplikasi Navigasi Terbaik selain Google Maps

Karena ada banyak sekali aplikasi maps dan navigasi di Android maupun iPhone, kita akan kurasi ke dalam daftar 10 terbaik agar Anda tidak bingung.
Berikut ini adalah daftar aplikasinya.
Waze

Waktu penggunaan smartphone di Indonesia baru melonjak, ada dua aplikasi navigasi yang paling banyak digunakan.
Aplikasi pertama adalah Google Maps, dan saingannya adalah Waze.
Jadi bisa dibilang Waze merupakan aplikasi maps paling tua yang masih bertahan sampai saat ini.
Dan walaupun namanya sudah jarang terdengar, aplikasi ini terus memperbaharui fitur-fiturnya hingga masih menyaingi aplikasi buatan Google.
Satu hal yang paling disukai oleh pengguna Waze adalah aplikasi ini bisa memberi navigasi ke jalan-jalan sempit sekalipun. Termasuk juga gang kecil di Indonesia.
Sehingga Waze bisa mengarahkan penggunanya agar sampai ke tujuan dalam waktu lebih cepat, menghindari macet, dan dalam rute paling dekat dibandingkan Google Maps.
Geo Tracker
![]()
Geo Tracker adalah aplikasi yang lebih cocok untuk dipakai waktu berkendara ramai-ramai.
Misalnya waktu sedang touring naik motor, mudik bareng saudara, atau lagi perjalanan kunjungan kerja dari kantor.
Sesuai dengan namanya, aplikasi ini punya fitur tracker alias memberi tahu posisi mobil lain yang terhubung dengan akun kita.
Bukan cuma itu, aplikasi ini juga bisa digunakan untuk melacak kecepatan mobil, jarak antar mobil, serta rute yang digunakan selama perjalanan.
Here We Go

Nah, selanjutnya ada aplikasi navigasi alternatif Google Maps dengan tampilan paling mirip, yaitu Here We Go.
Untuk Anda yang HPnya sudah tidak bisa update Maps sama sekali, aplikasi ini bisa jadi pilihau utama kalau tidak mau mempelajari tampilan dan fitur-fitur di aplikasi maps lainnya.
Cara kerja Here We Go sangat simpel. Anda hanya perlu menulis tujuan perjalanan, menentukan dari mana lokasi awalnya, lalu mengaktifkan mode navigasi.
Here We Go juga akan menampilkan kalau ada jalan potong, jalan macet, atau rute alternatif agar perjalanan Anda jadi lebih cepat sampai.
GPS Maps Driving by Voice Navigation Apps

Satu lagi aplikasi alternatif Google Maps adalah GPS Maps Driving.
Tapi, aplikasi ini hanya bisa dipakai untuk berkendara menggunakan mobil saja. Sedangkan sepeda dan motor kurang cocok untuk memakai aplikasi ini.
Alasannya karena GPS Maps Driving hanya bisa menunjukan jalur arteri saja. Artinya rute yang ditunjukan bisa jadi akan melewati tol, jalan layang, atau jalur lainnya yang tidak boleh digunakan oleh pengguna motor di Indonesia.
Itulah kenapa ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan Google Maps, karena fiturnya lebih terbatas dan tidak ada banyak menu-menu yang malah buat pusing pengguna.
Sygic GPS

Semua aplikasi navigasi yang sudah kita sebutkan di atas butuh koneksi internet untuk bisa berfungsi memberi arah jalan.
Karena memang aplikasi ini harus terhubung dengan internet agar bisa terus update tentang kondisi jalanan, misalnya apakah jalanannya macet, apakah sedang ada penutupan jalan, dan lain-lain.
Tapi ada satu aplikasi peta yang bisa kita gunakan secara offline, namanya adalah Sygic GPS.
Aplikasi ini merupakan pengembangan langsung dari GPS konvensional yang sudah ada jauh sebelum Google Maps dikembangkan.
Walaupun tidak bisa memberi tahu berapa jam perjalanan sampai ke tujuan, apakah jalannya macet atau tidak, tapi Sygic GPS masih bisa menunjukan ke arah jalan mana yang harus Anda lewati.
Map Factor

Map Factor mungkin belum meng-cover jalanan di seluruh Indonesia.
Tapi di kota-kota besar seperti Jakarta, aplikasi ini sangat cocok untuk Anda yang masih belajar mengemudi dan belum hafal jalanan di kota sebesar Jakarta.
Map Factor punya dua mode navigas, yaitu 2D dan 3D. Dengan navigasi 2D, rute bisa diarahkan menggunakan suara seperti biasa.
Kemudian waktu sudah dekat tujuan, Anda bisa menggunakan navigasi 3D agar lebih mudah melihat gambar jalanan, bangunan di sekitarnya, atau patokan terdekat dari tujuan.
Aplikasi ini juga punya fitur mode malam, sehingga bisa disesuaikan dengan jam perjalanan.
Avenza Maps: Pemetaan Offline

Satu lagi aplikasi Navigasi offline adalah Avenza. Tapi aplikasi ini agak unik, karena bisa digunakan sebagai aplikasi GPS untuk pemetaan.
Kalau daftar aplikasi di atas digunakan waktu berkendara pakai mobil dan motor, Avenza justru lebih cocok untuk dipakai hiking, naik sepeda, atau jalan santai.
Yang mana ketiga kegiatan tersebut tidak membutuhkan update kemacetan atau estimasi perjalanan.
Selain itu, Avenza juga bisa mencari rute hiking yang menarik. Baik itu hiking di tengah hutan, di atas gunung, bahkan di sekitar pantai sekali pun.
Kalau beruntung, Anda bisa temukan hidden gem bersama Avenza Maps ini.
Sat Nav GPS (Karta GPS)
![]()
Sat Nav GPS adalah aplikasi yang terhubung langsung dengan satelit untuk memantau perjalanan.
Mirip seperti Google Maps, aplikasi ini punya fitur dasar seperti ikon kendaraan yang dipakai, fitur navigasi suara, melihat kondisi kepadatan jalanan, dan masih banyak lagi.
Tapi karena aplikasinya terhubung dengan satelit, maka update situasi jalanan bisa dilakukan dengan lebih cepat.
Google Maps sendiri memantau kondisi jalanan berdasarkan banyaknya smartphone yang aktif di jalanan tersebut.
Kalau ada banyak smartphone yang terhenti satu tempat, artinya jalanan sedang macet. Sedangkan Sat Nav memantau lewat satelit.
Sehingga bisa memberi update di daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh internet di Indonesia.
Open Street Map (OSM)

Aplikasi navigasi yang terakhir adalah Open Street Map.
Mirip seperti Avenza, aplikasi ini juga offline dan bukan hanya cocok untuk digunakan waktu berkendara.
Tapi juga cocok sebagai navigasi waktu hiking ke gunung atau sedang jalan santai di daerah-daerah pedesaan.
Open Street Map punya fitur navigasi tradisional, misalnya kompas, pengukur jarak, dan lain-lain.
Anda juga bisa merekam jejak selama perjalanan, sehingga bisa diikuti lagi waktu perjalanan pulang setelah hiking.
Hampir semua aplikasi navigasi yang sudah sebutkan di atas bisa Anda unduh gratis lewat Google Play Store dan App Store.
Tapi ada juga aplikasi dengan in-app purchase seperti di Open Street Map untuk membuka fitur yang lebih lengkap pada aplikasi tersebut.
